Sosial & Budaya

Muslimat NU Kembali Gaungkan Seruan Perdamaian Dunia, Gubernur Khofifah Ajak Rawat Persaudaraan dan Teduhkan Peradaban

×

Muslimat NU Kembali Gaungkan Seruan Perdamaian Dunia, Gubernur Khofifah Ajak Rawat Persaudaraan dan Teduhkan Peradaban

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK, 14 AGUSTUS 2026 – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri secara langsung Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama Pengurus Wilayah Muslimat NU Kalimantan Barat di Asrama Haji Kota Pontianak, Selasa (11/8).

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah bersama ribuan warga  Muslimat NU se-Kalimantan Barat kembali menggaungkan seruan perdamaian dunia sekaligus menegaskan peran Muslimat NU dalam menjaga perdamaian dan merawat persaudaraan. 

Seruan tersebut menjadi bagian dari pesan yang disampaikan secara serentak oleh Muslimat NU dalam setiap peringatan Harlah di berbagai daerah.

“Jadi yang dilakukan di setiap Harlah Muslimat NU antara lain kita membacakan surat isinya adalah seruan perdamaian, hentikan peperangan. Surat itu di semua titik kita tunjukkan kepada PBB,” ujar Khofifah.

Khofifah yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut mengatakan, seruan perdamaian itu menjadi bentuk nyata kepedulian Muslimat NU terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Menurutnya, pesan tersebut selaras dengan tema Harlah ke-80 Muslimat NU, yakni Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban.

“Perdamaian dunia adalah tujuannya kita bersama dan meneduhkan peradaban adalah jalannya untuk mencapai tujuan tersebut,” sebutnya.

Ia menjelaskan, meneduhkan peradaban memiliki makna menciptakan suasana yang adem, kondusif, toleran, bijak, tidak panas dan tidak radikal.

Upaya tersebut, lanjut Khofifah, dapat dilakukan dengan mengedepankan dialog, toleransi, keadilan dan kemandirian. Selain itu, penting untuk membangun persatuan dengan menyatukan, bukan memecah belah.

“Kalau peradabannya sudah teduh maka konflik bisa diredam sebelum pecahnya peperangan, dan perdamaian jadi lebih mudah dijaga,” imbuhnya.

Khofifah mengatakan, Muslimat NU juga terus berupaya agar seruan perdamaian tersebut dapat disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ia menuturkan bahwa pihaknya melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, telah berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri agar Muslimat NU mendapatkan kesempatan menyampaikan seruan tersebut secara langsung kepada PBB.

“ Jadi seruan damai, seruan untuk hentikan perang itu adalah seruan dari semua Muslimat di mana saja mereka Harlah. Itu yang disampaikan,” tegasnya.

Menurut Khofifah, seruan perdamaian tersebut merupakan bagian dari peran Muslimat NU sebagai organisasi perempuan yang tidak hanya berfokus pada penguatan keluarga dan umat, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan serta masa depan peradaban.

“Muslimat NU tidak hanya merawat tradisi dan menguatkan kemandirian umat, tetapi juga hadir meneduhkan peradaban melalui pesan-pesan damai,” tambahnya.

Khofifah pun mengajak seluruh kader dan anggota Muslimat NU untuk terus menyemai kedamaian, menjaga persaudaraan serta memperkuat semangat persatuan di tengah masyarakat.

Ia berharap, sebagai organisasi perempuan terbesar di dunia, Muslimat NU dapat terus memperluas pesan perdamaian sehingga suara tersebut tidak hanya terdengar di tingkat nasional, tetapi juga sampai ke dunia internasional.

“Dari peradaban yang meneduhkan, lahir seruan perdamaian yang didengar dunia,” tegasnya.

Ia menambahkan, seruan kepada PBB untuk menghentikan peperangan merupakan ikhtiar dan harapan agar perdamaian dunia terus diperjuangkan. Sementara itu, kerja-kerja Muslimat NU di tingkat akar rumput melalui pendidikan, UMKM, dakwah, istighosah dan salawat menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang teduh.

Dengan demikian, pesan perdamaian tidak hanya disampaikan melalui seruan kepada dunia internasional, tetapi juga diwujudkan melalui kerja nyata di tengah masyarakat. Penguatan keluarga, kemandirian ekonomi, pendidikan dan kehidupan keagamaan menjadi bagian dari upaya merawat persaudaraan dan mencegah munculnya konflik di lingkungan masyarakat.

Di kesempatan ini pula, Khofifah mengajak seluruh anggota Muslimat NU yang hadir untuk bersama-sama melantunkan salawat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih serta menyanyikan lagu Hari Merdeka dan Garuda Pancasila.