JOMBANG — Upaya menanamkan karakter peduli lingkungan sejak usia sekolah dasar terus dikembangkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Muawwanah Janti, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Melalui program “Madrasah Hijau Digital: Implementasi Eco-Project Learning untuk Menumbuhkan Karakter Peduli Lingkungan di Madrasah Ibtidaiyah”, kegiatan pembelajaran lingkungan diarahkan tidak sekadar pada penyampaian materi, tetapi melalui pengalaman langsung, proyek nyata, pemanfaatan teknologi digital, dan pembiasaan.
Program tersebut merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang melalui skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) tahun 2026. Tim pelaksana terdiri atas Imam Mutaqin, Lilik Maftuhatin, dan Bakri, dengan melibatkan mahasiswa dalam proses pendampingan dan dokumentasi kegiatan. MI Al Muawwanah Janti menjadi mitra sasaran program.
Program ini berangkat dari kondisi awal madrasah yang sebenarnya memiliki modal dasar cukup memadai. MI Al Muawwanah tercatat memiliki 238 siswa, 16 guru tetap, ruang kelas permanen, taman sederhana, serta akses internet. Namun, hasil observasi dan diskusi awal menunjukkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam sebuah sistem pendidikan lingkungan yang terencana dan berkelanjutan.
Sebelum program dilaksanakan, pembelajaran lingkungan masih cenderung bersifat teoritis. Guru juga belum optimal menerapkan pembelajaran berbasis proyek, sementara kegiatan seperti bank sampah, taman hijau, dan daur ulang belum berjalan secara konsisten. Madrasah juga belum memiliki pedoman internal yang secara khusus mengatur arah, pembagian peran, indikator keberhasilan, monitoring, dan keberlanjutan program Madrasah Hijau.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah. Sistem pemilahan sampah organik dan anorganik belum diterapkan secara optimal. Kondisi tersebut membuat potensi sampah organik untuk diolah menjadi kompos maupun sampah anorganik untuk dikembangkan melalui sistem bank sampah belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi dasar tim pengabdian mengembangkan pendekatan Eco-Project Learning. Model ini menempatkan siswa sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan, tetapi diajak mengidentifikasi persoalan, merancang tindakan, bekerja secara berkelompok, menghasilkan produk, mendokumentasikan proses, dan melakukan refleksi.
“Program ini diarahkan untuk mengintegrasikan pembelajaran, aksi lingkungan, teknologi digital, dan penguatan tata kelola madrasah,” demikian gambaran program dalam laporan pengabdian yang disusun tim pelaksana.
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Kepala madrasah, guru, dan siswa tidak ditempatkan hanya sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek yang terlibat dalam identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, refleksi, dan evaluasi. Pendekatan tersebut diterapkan melalui lima tahapan utama, yakni identifikasi masalah, sosialisasi dan pelatihan, implementasi proyek, pendampingan serta evaluasi, dan penguatan keberlanjutan.
Pada tahap awal, tim melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan madrasah, proses pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, serta kegiatan pengelolaan lingkungan. Observasi kemudian dilengkapi wawancara dan diskusi bersama kepala madrasah serta guru untuk memetakan kebutuhan dan kesiapan mitra.
Tahap berikutnya berupa sosialisasi dan pelatihan guru. Guru mendapatkan penguatan mengenai konsep Eco-Project Learning, penyusunan RPP atau rancangan proyek lingkungan, rubrik penilaian, serta pemanfaatan platform digital. Pelatihan dilakukan dengan pendekatan learning by doing, sehingga guru tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga menghasilkan perangkat pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan Google Workspace sebagai pusat dokumentasi, pelaporan, dan sumber belajar lingkungan. Teknologi digital tidak ditempatkan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai instrumen untuk memperkuat proses pembelajaran, dokumentasi kegiatan, komunikasi, dan keberlanjutan program.
Setelah pelatihan, siswa mulai dilibatkan dalam proyek lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu proyek yang dikembangkan adalah pengolahan kompos. Melalui proyek ini, siswa diperkenalkan pada pemanfaatan sampah organik sekaligus belajar memahami hubungan antara kebersihan, pengelolaan sampah, dan kelestarian lingkungan.
Selain kompos, siswa juga diarahkan menghasilkan video dan jurnal edukasi lingkungan. Kegiatan tersebut menggabungkan aksi nyata dengan literasi digital. Siswa dapat mendokumentasikan proses kegiatan, menyusun pesan edukatif, dan mengomunikasikan pengalaman mereka melalui media digital.
Penggabungan antara aktivitas lingkungan dan teknologi digital menjadi salah satu karakteristik utama program Madrasah Hijau Digital. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar tentang lingkungan melalui buku atau penjelasan guru, tetapi memperoleh pengalaman langsung sekaligus belajar menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik baik.
Dari sisi guru, program ini mendorong perubahan peran dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator proyek. Guru diarahkan untuk memulai pembelajaran dari persoalan nyata di lingkungan madrasah, mengorganisasi siswa dalam kelompok, memandu perencanaan aksi, memonitor proses, dan menggunakan produk proyek sebagai bagian dari proses asesmen.
Program tersebut juga menghasilkan sejumlah luaran yang masih berada pada tahap proses pengembangan. Di antaranya sistem Google Workspace Madrasah Hijau Digital, modul ajar Eco Madrasah, artikel ilmiah, publikasi media massa, video kegiatan, poster, serta rekognisi enam SKS bagi mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan.
Tim pengabdian menilai bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari tersedianya perangkat digital atau terlaksananya satu kegiatan lingkungan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan tersebut menjadi bagian dari budaya madrasah.
Karena itu, agenda lanjutan diarahkan pada finalisasi dan implementasi Pedoman Madrasah Hijau Digital, integrasi Eco-Project Learning ke dalam pembelajaran dan program kerja madrasah, optimalisasi Taman Edukasi Hijau dan pengolahan kompos, pengembangan konten digital, serta monitoring terhadap perkembangan kompetensi guru dan karakter peduli lingkungan siswa.
Tim pengabdian menyadari bahwa perubahan karakter tidak dapat dibentuk melalui satu kali pelatihan. Kepedulian lingkungan membutuhkan proses pembiasaan, keteladanan, pengalaman nyata, penguatan lingkungan sekolah, serta dukungan kebijakan kelembagaan.
Karena itu, proyek kompos, video edukasi, dokumentasi digital, dan kegiatan lingkungan lainnya diarahkan untuk menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung secara rutin, bukan sekadar kegiatan tambahan ketika program pengabdian berlangsung.
“Perubahan terpenting yang ingin dibangun bukan hanya menghasilkan produk, tetapi menggeser orientasi kegiatan lingkungan yang sebelumnya bersifat insidental menuju pembelajaran berbasis aksi yang terdokumentasi dan dapat dilanjutkan oleh madrasah,” demikian arah program yang tercermin dalam laporan pelaksanaan.
Dengan konsep tersebut, MI Al Muawwanah Janti diharapkan dapat terus mengembangkan ekosistem pendidikan yang menghubungkan pembelajaran, kepedulian lingkungan, literasi digital, dan karakter siswa. Program Madrasah Hijau Digital juga diharapkan menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan dan direplikasi pada kelas maupun madrasah lain dengan kondisi serupa.
Ke depan, keberlanjutan program menjadi kunci. Pedoman Madrasah Hijau Digital perlu difinalisasi dan ditetapkan sebagai acuan internal, sementara proyek lingkungan perlu diintegrasikan dengan kalender pembelajaran dan program kerja madrasah. Monitoring secara berkala juga diperlukan untuk melihat konsistensi pelaksanaan sekaligus mengidentifikasi perbaikan yang dibutuhkan.
Dengan demikian, gerakan Madrasah Hijau Digital di MI Al Muawwanah tidak berhenti pada kegiatan membuat kompos atau memproduksi video lingkungan. Lebih jauh, program ini menjadi upaya membangun budaya belajar yang menempatkan lingkungan sebagai ruang pendidikan, siswa sebagai pelaku perubahan, guru sebagai fasilitator, dan teknologi digital sebagai alat untuk memperkuat keberlanjutan gerakan peduli lingkungan di madrasah.









