Sosial & Budaya

Halal Bihalal HIKAM Jombang Jadi Ruang Refleksi, Kyai Idris Djamal Ingatkan Pentingnya Niat, Adab dan Keberkahan Ilmu

×

Halal Bihalal HIKAM Jombang Jadi Ruang Refleksi, Kyai Idris Djamal Ingatkan Pentingnya Niat, Adab dan Keberkahan Ilmu

Sebarkan artikel ini

JOMBANG, 9 APRIL 2026 – Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) Kabupaten Jombang menggelar Halal Bihalal bersama Pengasuh di Masjid Pondok Pesantren Umar Zahid, Semelo, Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan dihadiri alumni, jamaah pengajian, serta masyarakat sekitar.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Yusuf Hidayat Al Hafidz, mengalirkan doa untuk para masyayikh, khususnya Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad, pendiri Bumi Damai Al-Muhibbin, yang akrab disapa Abah Djamal.

Dalam sambutan pembukaan, tuan rumah sekaligus perwakilan panitia, KH. Saiful Hidayat, Lc., M.H.I (Gus Saiful), mengajak seluruh alumni dan jamaah untuk meneladani keistiqamahan Abah Djamal dalam menjalankan ibadah dan pengajian.

“Keistiqamahan Abah Djamal itu luar biasa. Dalam kondisi apapun beliau tetap menjaga ibadah dan pengajian. Ini yang harus kita teladani,” ungkapnya.

Memasuki acara inti, Mauidzoh Hasanah disampaikan oleh KH. Moch Idris Djamaluddin yang akrab disapa Kyai Idris Djamal. Dalam taujihatnya, beliau mengisahkan keteladanan Abah Djamal sejak usia dini.

“Sejak kecil, Abah sudah _wira’i_. Bahkan saat umur 11–12 tahun, ketika mondok di Kiai Abu Amar Combre Nganjuk, setelah makan bersama beliau selalu meminta teman-temannya menghalalkan makanan yang ikut termakan,” tuturnya.

Beliau juga menambahkan bahwa sejak kecil Abah Djamal telah menjaga adab layaknya seorang kiai. “Beliau tidak pernah memakai baju lengan pendek. Ke mana pun selalu berpakaian rapi dan sopan,” imbuhnya.

Kyai Idris Djamal kemudian mengisahkan perjalanan mondok Abah Djamal di Tambakberas selama enam tahun. Niat beliau sejak awal adalah mencari ilmu yang bermanfaat, bukan sekadar menjadi pintar. “Sejak kelas dua mualimin, Abah sudah mengajar santri putri. Beliau dikenal pintar dan menjadi idola,” kenangnya.

Ia juga menceritakan peristiwa saat Abah Djamal akan dijadikan menantu oleh KH. Abdul Fattah, namun di sisi lain mendapat pesan dari ibundanya untuk melanjutkan belajar di Lasem. Dalam situasi tersebut, Abah Djamal memilih tetap taat pada guru sebagai murobbi ruh. “Kalau ada pertentangan antara orang tua dan guru, maka yang didahulukan adalah guru, karena guru mendidik ruh kita,” jelasnya.

Perjalanan hidup tersebut berlanjut hingga pada tahun 1970 Abah Djamal menikah, dan pada tahun 1974 mulai merintis tempat pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal Al-Muhibbin. “Tahun 1974 itulah awal berdirinya Al-Muhibbin, dari niat yang tulus dan proses panjang yang penuh perjuangan,” ungkapnya.

Selanjutnya, sambutan dan pengarahan disampaikan oleh Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi (Mbah Bolong). Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa alumni Al-Muhibbin harus memiliki lima sikap utama. “HIKAM harus memiliki lima sikap: _Munadzdzim, Murobbi, Mujaddid, Mujahid, dan Mu’tsir,_” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa alumni harus mampu menata diri _(munadzdzim)_, menjadi pendidik sekaligus pemersatu _(murobbi)_, adaptif dan inovatif _(mujaddid)_, memiliki daya juang dalam dakwah _(mujahid)_, serta rela berkorban dan mendahulukan orang lain _(mu’tsir)_.

“Jangan sampai alumni justru memecah belah. Kita harus menjadi perekat umat,” pesannya.

Rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Kyai Idris Djamal, dilanjutkan dengan mushofahah atau saling bersalaman sebagai simbol saling memaafkan dalam suasana Idul Fitri.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat sekitar serta jamaah pengajian rutin Al Hikam di Ponpes Umar Zahid, yang dahulu diasuh langsung oleh Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad dan kini dilanjutkan oleh KH. Saiful Hidayat. Selain itu, jajaran Pengurus Pusat HIKAM juga turut hadir memperkuat semangat silaturahim.

Melalui Halal Bihalal ini, HIKAM Jombang tidak hanya mempererat ukhuwah antaralumni, tetapi juga meneguhkan kembali nilai keistiqamahan, adab, dan keteladanan Abah Djamal sebagai fondasi utama dalam menjaga keberkahan hidup dan perjuangan dakwah.