Sosial & Budaya

HIKAM Tapal Kuda Gelar Halal Bihalal di Jember, Teguhkan Nilai Pesantren dan Spirit Birrul Walidain dalam Kehidupan

×

HIKAM Tapal Kuda Gelar Halal Bihalal di Jember, Teguhkan Nilai Pesantren dan Spirit Birrul Walidain dalam Kehidupan

Sebarkan artikel ini

JEMBER, 7 APRIL 2026 – Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang wilayah Tapal Kuda kembali menggelar Halal Bihalal bersama Pengasuh, Selasa (7/4) siang. Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Yayasan Islam Nahdlatut Thalabah (YASINAT), Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, dan diikuti oleh alumni dari Kabupaten Jember, Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.

Sejak siang hari, para alumni, santri, dan masyarakat telah memadati area pesantren. Suasana religius dan penuh kekhidmatan terasa sejak awal acara, yang dibuka dengan pembacaan tahlil oleh Kyai Drs. M. Hamid Aqil Basuni, M.Pd. Lantunan tahlil yang dipanjatkan bersama menjadi wasilah doa untuk para masyayikh, khususnya para guru dan pengasuh, sekaligus menguatkan ikatan ruhani antaralumni.

Memasuki sesi sambutan, tuan rumah sekaligus Pengasuh Ponpes YASINAT Jember, KH. Moch Dimyathi Burhan, menyampaikan pesan yang sarat makna tentang pentingnya menjaga keterhubungan spiritual dengan guru.

“Santri Tambakberas itu nilai manfaatnya bisa luber-luber, asalkan tetap menjaga hubungan dengan gurunya, khususnya dengan membaca Al-Fatihah kepada Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad,” dawuh beliau.

Ia mengibaratkan hubungan santri dengan guru seperti ranting dan daun pada pohon. “Menjadi santri itu seperti ranting dan daun. Bisa kering kalau tidak tersambung dengan batang pohon,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengutip hikmah dari kitab Alala: _“Akhu al-‘ilmi hayyun khalidun ba’da mawtihi, wa aushaluhu tahta at-turabi ramiim”_
yang maknanya "Saudara ilmu akan hidup abadi meskipun telah wafat, sementara jasadnya telah hancur di dalam tanah" terangnya.

Sebagai penutup sambutannya, KH. Dimyathi Burhan mengajak seluruh hadirin untuk memohon kepada Allah SWT empat hal pokok dalam kehidupan. “Cukup kita minta empat saja: hati yang bersih (padange ati), tetapnya iman, keberkahan dalam setiap pemberian Allah, dan keselamatan dunia akhirat,” tuturnya.

Selanjutnya, sambutan dan pengarahan disampaikan oleh Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi atau yang akrab disapa Mbah Bolong. Dalam penyampaiannya, mbah Bolong menjelaskan bahwa rangkaian Halal Bihalal ini merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk menyambung silaturahim antara pengasuh dengan santri dan alumni di berbagai daerah.

“Pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin berkomitmen hadir langsung membersamai santri dan alumni melalui Halal Bihalal di 10 titik di Indonesia. Di Tapal Kuda ini adalah titik ketiga, setelah Madiun Raya dan Karesidenan Kediri,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut ke berbagai wilayah lain seperti Lampung dan Jakarta.

Menegaskan pesan tuan rumah, Mbah Bolong kembali mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan pengasuh. “Seperti dawuh KH. Dimyathi tadi, agar kita tidak menjadi pohon yang kering, maka alumni harus terus menyambung hubungan dengan pengasuh,” pesannya.

Memasuki acara inti, para hadirin mendapatkan taujihat pengasuh yang disampaikan oleh KH. Moch Idris Djamaluddin—yang akrab disapa Kyai Idris Djamal. Dalam penyampaiannya, beliau membuka dengan menjelaskan niat di balik rangkaian safari Halal Bihalal yang dilakukan.

“Niat saya dan kita semua keliling menghadiri Halal Bihalal ini adalah bagian dari birrul walidain. Karena salah satu akhlaknya anak adalah menyambung apa yang dicintai oleh orang tuanya,” dawuh beliau.

Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad, pendiri Bumi Damai Al-Muhibbin, yang sangat mencintai para santri. “Abah itu merawat santri, bahkan melebihi merawat anaknya sendiri,” ungkap beliau.

Beliau juga menyampaikan kisah dawuh KH. Abdul Djalil Tulungagung kepada Abah Djamal, sebagai bentuk perhatian terhadap pendidikan generasi penerus. Mengutip hadis _“al-arwahu junudun mujannadah”_, beliau menjelaskan bahwa ruh manusia ibarat tentara yang berkelompok—yang saling mengenal akan mudah rukun, sementara yang tidak mengenal akan sulit bersatu.

Lebih lanjut, Kyai Idris Djamal mengutip dawuh Ibnu Hajar al-Asqalani tentang tanda seseorang yang dikehendaki baik oleh Allah, yaitu senang terhadap ilmu, zuhud terhadap harta, dan mampu melihat kekurangan dirinya sendiri.

Beliau kemudian menjelaskan cara mengenali kekurangan diri sebagaimana diajarkan oleh Imam Al-Ghazali:
melalui bimbingan guru, melalui teman yang jujur, serta dengan mengambil pelajaran dari perilaku buruk orang lain. “Orang itu kadang justru tahu jeleknya dirinya dari sumpah serapah musuhnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa orang yang cerdas adalah yang mampu merendahkan dirinya, bukan justru membanggakan diri.

Dalam konteks amanah, beliau memberikan pesan yang sangat membumi: “Kalau pegang uang amanah, pijakannya hati. Jangan hanya hitam di atas putih. Kalau hatimu tahu itu bukan milikmu, maka jangan digunakan.”

Beliau juga mengutip dari kitab _Sirojut Thalibin_ bahwa ruh seorang alim memiliki kekhususan, bahkan setelah wafat tetap “ngopeni” keluarga dan santri-santrinya.

Di bagian akhir taujihatnya, beliau menjelaskan bagaimana Allah mendidik Nabi Muhammad SAW melalui perjalanan para nabi terdahulu, hingga mencapai puncaknya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj—sebuah proses pendidikan ilahi yang penuh hikmah.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan _Mauidzoh Hasanah_ yang disampaikan oleh KH. Imam Baghowi Burhan, Pengasuh PPTQ YASINAT Jember. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya menghadirkan suasana nyaman dalam rumah dan pesantren sebagai tempat ibadah. "Rumah dan pondok itu yang paling penting nyaman untuk ibadah,” tuturnya.

Beliau juga menyampaikan dawuh Mbah Yai Zaid Ringinagung bahwa rumah harus pantas untuk menerima tamu, dan membangun tempat untuk kegiatan ngaji tidak perlu terlalu diperhitungkan secara materi. _“Mbangun tempat kanggo ngaji_ itu tidak usah dihitung-hitung, seperti orang cukur,” ungkapnya dengan bahasa sederhana namun penuh makna.

Beliau juga mengenang sosok Abah Djamal yang menjadi teladan bagi banyak kalangan. “Abah Djamal itu idola. Setiap beliau akan rawuh, kami diperintahkan untuk bersiap dan membersihkan semuanya,” kenangnya.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan suasana penuh keakraban dan kebersamaan. Seperti pelaksanaan Halal Bihalal sebelumnya, kegiatan ini juga dihadiri oleh masyarakat sekitar, alumni, serta wali santri dari wilayah Tapal Kuda yang turut memeriahkan acara.

Melalui kegiatan ini, HIKAM Tapal Kuda kembali meneguhkan bahwa silaturahim, sanad keilmuan, dan kecintaan kepada guru adalah fondasi utama dalam menjaga keberkahan hidup, sekaligus menjadi kekuatan spiritual dalam menghadapi dinamika kehidupan zaman.