JAKARTA, 27 OKTOBER 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali meraih apresiasi di tingkat nasional. Kali ini, Pemprov Jatim memperoleh Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026 kategori Innovation for Public Service, subkategori Inovasi Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) yang diselenggarakan TV One.
Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Komjen Pol. (Purn.) Purwadi Arianto dan diterima Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai, yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Penyerahan berlangsung di Studio TV One, The Convergence Indonesia, Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (26/10).
Gubernur Khofifah mengatakan, penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya Pemprov Jatim dalam menghadirkan inovasi pelayanan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya melalui sektor pendidikan. Program SIKAP dirancang untuk mendukung agenda strategis nasional dalam memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan sebagaimana menjadi prioritas Presiden RI Prabowo Subianto.
"Program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto difokuskan pada pencapaian swasembada pangan nasional serta penguatan kedaulatan ekonomi rakyat melalui berbagai kebijakan strategis dan sinergi lintas lembaga. Jawa Timur telah memulai dari sektor pendidikan," ujar Khofifah.
Khofifah menyebut, penguatan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada lahan pertanian berskala besar. Lingkungan sekolah juga memiliki potensi untuk menjadi ruang produktif sekaligus tempat pembelajaran bagi generasi muda dalam mengenal proses budidaya tanaman pangan dan hewan ternak.
"Program SIKAP memberikan gambaran bahwa penguatan ketahanan pangan nasional dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan secara langsung melibatkan seluruh warga sekolah," katanya.
Pada tahun 2026, Program SIKAP telah diterapkan di jenjang SMA, SMK, dan SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Sebanyak 1.548 sekolah telah melaksanakan program tersebut, terdiri atas 596 SMA, 759 SMK, dan 193 SLB.
Khofifah menegaskan, pemanfaatan lahan sekolah secara produktif merupakan salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan. Lahan yang tersedia, meskipun terbatas, dapat dioptimalkan melalui budidaya tanaman maupun hewan ternak sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing sekolah.
"Ketahanan tidak harus dari lahan luas yang berhektar-hektar, tetapi dapat dimulai dari lahan seadanya yang kita miliki, dari lahan yang ada di sekolah diolah menjadi lebih produktif," ungkapnya.
Lebih dari sekadar mendukung agenda ketahanan pangan, SIKAP juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi peserta didik. Melalui kegiatan menanam, merawat, hingga memanen, siswa belajar memahami proses produksi pangan sekaligus membangun karakter mandiri, disiplin, kreatif, bertanggung jawab, bergotong royong, dan peduli terhadap lingkungan.
"Program SIKAP ini mengajarkan tidak hanya pendidik, dan tenaga kependidikan tetapi juga anak-anak untuk bisa membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak yang dimulai di lingkungan sekolah," katanya.
Khofifah juga menjelaskan, keterlibatan langsung dalam proses budidaya akan menumbuhkan rasa memiliki pada diri siswa terhadap tanaman maupun ternak yang dikelola bersama. Sehingga, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar bertanggung jawab menjaga dan merawat hasil kerja mereka
"Anak-anak dan warga sekolah akan memiliki keterikatan dengan apa yang ditanam, mereka akan bertanggung jawab menjaga, memelihara apa yang mereka tanam, apa yang mereka semai," katanya.
Pelaksanaan SIKAP juga sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Melalui pendekatan ini, peserta didik terlibat aktif dalam proses belajar dengan mengamati, mencoba, bereksplorasi, dan mengambil pelajaran dari pengalaman langsung di lingkungan sekolah.
Siswa, misalnya, dapat mempelajari teknik menanam dan membudidayakan tanaman atau hewan, memahami cara meningkatkan produktivitasnya, serta mengenali nilai-nilai yang tumbuh dari kegiatan tersebut. Proses itu diharapkan menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa dapat menghubungkan pengetahuan dengan praktik sehari-hari.
"Belajar bagaimana cara menanam atau membudidayakan tanaman, hewan, bagaimana agar tanaman dan hewan yang dibudidayakan semakin produktif, dan mengambil pelajaran dari nilai-nilai yang tumbuh dari aktivitas bertanam dan beternak," tuturnya.
Khofifah menambahkan, keberlanjutan Program SIKAP membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, penguatan kapasitas guru, kemitraan, serta pengembangan inovasi. Sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan menanam atau beternak, tetapi juga terus mencari cara agar lahan dan media tanam yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Anak-anak dan seluruh warga sekolah didorong untuk dapat berinovasi sekaligus berupaya mewujudkan ketahanan pangan, bagaimana memanfaatkan lahan dan media tanam, akan terdorong melahirkan inovasi-inovasi untuk implementasi program SIKAP," ucapnya.
Khofifah berharap tanaman dan budidaya yang telah dikembangkan di sekolah dapat dirawat secara berkelanjutan sehingga memberikan hasil yang bermanfaat. Jika dikelola dengan baik, hasilnya juga berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan di lingkungan sekolah.
"Anak-anak ini harus semangat menjaga, memelihara agar semua bisa terus tumbuh subur dan bisa menghasilkan, bisa untuk suplai di internal sekolah," ucapnya.
Lebih lanjut, Khofifah optimistis, pembiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten di sekolah dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Keterlibatan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang produktif, mandiri, dan berwawasan lingkungan.
"Ketahanan pangan tidak harus dilakukan pada lahan yang luas tetapi bisa dimulai dari lahan yang ada di sekitar, dan memanfaatkan media tanam yang ada," katanya.
"Ini merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan ketahanan yang bisa dilakukan di sekolah," imbuhnya.
Ia berharap praktik baik yang tumbuh melalui Program SIKAP dapat terus dikembangkan dan menjadi kontribusi nyata dunia pendidikan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
"Dari anak-anak, para guru, tenaga pendidikan di sekolah-sekolah di Jawa Timur untuk ketahanan pangan nasional," tegas Khofifah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menyampaikan apresiasi kepada TV One atas penghargaan yang diberikan kepada Program SIKAP. Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk komitmen Pemprov Jatim untuk menyelaraskan inovasi daerah dengan prioritas pembangunan nasional, terutama di bidang ketahanan pangan.
Aries mengatakan, meskipun baru berjalan sekitar dua setengah tahun, implementasi SIKAP telah meluas ke sekolah-sekolah di berbagai daerah di Jawa Timur. Ke depan, ia berharap program tersebut tidak hanya diterapkan di sekolah negeri, tetapi juga dikembangkan di sekolah swasta pada jenjang SMA, SMK, dan SLB, dengan menyesuaikan ketersediaan lahan masing-masing.
"Program ini diawali dari sekolah di Provinsi Jatim, bagaimana anak-anak kita, murid-murid kota tumbuh berkembang di alam dengan mengenal alam dan mengenal juga sistem pertanian, perkebunan, dan juga peternakan ini adalah hasil yang sangat luar biasa kita harapkan nanti tumbuh dan berkembang di Jawa Timur dan menjadi inisiasi bagi seluruh Indonesia," pungkasnya.









