Sosial & Budaya

Tekan Angka Cyberbullying di Pesantren, Pemprov Jatim Sinergi DSC Gelar Forum Halaqah Santri

19
×

Tekan Angka Cyberbullying di Pesantren, Pemprov Jatim Sinergi DSC Gelar Forum Halaqah Santri

Sebarkan artikel ini

JOMBANG, 19 Oktober 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat upaya pencegahan perundungan di lingkungan pesantren melalui kolaborasi dan penguatan literasi digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Halaqah Santri Digital 2026 yang akan diselenggarakan Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur bersama Dunia Santri Community (DSC) di Hotel Azana Jombang, Kamis–Jumat (29–30/10/2026).

Memasuki penyelenggaraan kedua, Halaqah Santri Digital berkomitmen dilanjutkan sebagai agenda tahunan. Keberlanjutan forum ini diharapkan memperkuat kolaborasi pemerintah, komunitas, dan pesantren dalam meningkatkan kapasitas santri menghadapi tantangan di era digital.

Tahun ini, kegiatan mengangkat tema “Menarasikan Pesantren Aman: Ruang Tumbuh Tanpa Rasa Takut” dengan fokus membangun budaya anti-perundungan, memperkuat adab, serta melindungi martabat santri. Sebanyak 100 peserta dari berbagai unsur pesantren dan pemangku kepentingan terkait dijadwalkan hadir.

Kabag Humas Biro Adpim Setda Provinsi Jawa Timur Dr. Zainal Muttaqin, yang juga menjadi panitia Halaqah Santri Digital 2026, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai forum dialog, penguatan kapasitas, dan perumusan aksi bersama. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat merumuskan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

”Kegiatan ini mempertemukan perspektif pengasuhan pesantren, adab, perlindungan anak, dan literasi digital guna mendorong lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bermartabat,’’ ujar dia.

Kegiatan tersebut akan dikemas melalui seminar panel, halaqah, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Pesertanya meliputi pengasuh dan pengelola pesantren, ustaz dan ustazah, perwakilan santri, pendamping atau konselor, pengelola media pesantren, akademisi, serta pemangku kepentingan terkait,’’ papar dia.

Rangkaian kegiatan diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan di pesantren, mulai dari penguatan tata tertib anti-perundungan, mekanisme pelaporan yang aman, hingga pendampingan dan rujukan. Forum ini juga memberikan ruang bagi suara santri sebagai masukan dalam membangun lingkungan pengasuhan yang saling menghargai.

Secara terpisah, Direktur Dunia Santri Community (DSC) Dr. Abdulloh Hamid, M.Pd. menyampaikan bahwa penguatan adab, empati, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat santri merupakan tujuan utama kegiatan. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam interaksi sehari-hari dan praktik pengasuhan di pesantren.

”Selain itu, peserta diharapkan mampu mengenali bentuk, tanda, dampak, dan faktor risiko bullying, termasuk perundungan di ruang digital atau cyberbullying serta penyalahgunaan relasi kuasa,’’ ujar dia.

Menurutnya, penguatan kapasitas pengasuh, pengurus, pendidik, dan santri diperlukan agar upaya pencegahan berjalan seiring dengan kesiapan menangani perundungan. Hal tersebut mencakup penyediaan kanal pelaporan yang aman, pendampingan korban, serta penanganan yang mengutamakan keselamatan santri.

Literasi digital juga menjadi perhatian dalam forum ini. Peserta didorong memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi anti-perundungan dengan tetap menjaga kerahasiaan identitas korban dan informasi sensitif.

”Kita berharap lahir komitmen bersama dan rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren. Dengan begitu, pesantren tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang aman bagi santri untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut,’’ pungkasnya.