Sosial & Budaya

HIKAM Madiun Raya Gelar Halal Bihalal Bersama Pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin, Perkuat Silaturahim dan Spirit Mendidik Anak yang “Bener”

×

HIKAM Madiun Raya Gelar Halal Bihalal Bersama Pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin, Perkuat Silaturahim dan Spirit Mendidik Anak yang “Bener”

Sebarkan artikel ini

MADIUN, 4 APRIL 2026 – Suasana hangat dan penuh kekhidmatan mewarnai pelaksanaan Halal Bihalal bersama Pengasuh yang diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang wilayah Madiun Raya, Sabtu (4/4). 

Kegiatan ini berlangsung di MI Plus Hilmarrusyda, Desa Purworejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, dan dihadiri alumni serta keluarga besar HIKAM dari Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

Sejak pagi, para peserta telah memadati lokasi acara dengan penuh antusias. Kegiatan diawali dengan penampilan para santri MI Plus Hilmarrusyda yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tartil dan penuh penghayatan.

Memasuki sesi sambutan, tuan rumah sekaligus perwakilan panitia dan pengurus HIKAM Madiun Raya, Muhammad Ilman Syafi’an, M.H.I, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat ukhuwah, mempererat sanad keilmuan, serta menjaga hubungan spiritual dengan para masyayikh.

“Alhamdulillah, hari ini kita dapat berkumpul dalam suasana penuh keberkahan. Halal Bihalal ini bukan hanya ajang temu kangen antar alumni, tetapi juga ikhtiar menjaga silaturahim dengan pengasuh serta menyambung nilai-nilai yang selama ini kita dapatkan di pesantren,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar HIKAM Madiun Raya terus menjadi wadah yang aktif dalam menghidupkan nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat. “Kami berharap kebersamaan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dalam bentuk kegiatan yang memberi manfaat, baik bagi alumni maupun masyarakat luas,” imbuhnya.

Acara inti diisi dengan _Mauidzoh Hasanah_ atau _taujihat_ pengasuh yang disampaikan oleh KH. Muhammad Idris Djamaluddin—yang akrab disapa Kyai Idris Djamal oleh para santri dan alumni. 

Dengan gaya penyampaian yang sederhana namun mengena, Kyai Idris Djamal menghadirkan nasihat yang langsung menyentuh dimensi kehidupan keluarga.

“Niat belajar itu harus untuk menjadi orang yang _bener_, bukan hanya sekadar menjadi orang yang _pinter,_” tegas beliau di hadapan para hadirin.

Menurutnya, kecerdasan tanpa kebenaran justru berpotensi menjerumuskan, sementara kebenaran akan menjadi fondasi kuat bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang berakhlak dan berkepribadian baik.

Lebih lanjut, Kyai Idris Djamal memberikan panduan praktis bagi orang tua dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang _“bener”_. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pentingnya menjaga ucapan dan sikap terhadap anak.

“Jangan pernah _nyedakne_ anak. Ketika anak nakal, cukup diingatkan atau diberi sentuhan ringan, tapi tetap dengan kalimat yang baik, seperti ‘anak pinter’, ‘anak cerdas’. Jangan sampai keluar kata-kata yang buruk, karena itu bisa menjadi _‘kerentek’_ dalam diri anak,” dawuhnya.

Beliau juga mengingatkan agar orang tua tidak berburuk sangka kepada anak. “Jangan _su’udzon_ kepada anak. Anak itu amanah, yang harus dijaga dengan prasangka baik dan doa,” lanjutnya.

Dalam konteks spiritual, Kyai Idris Djamal menekankan pentingnya membiasakan anak dalam laku ibadah sebagai bentuk syukur. “Anak itu dipuasani, dilatih ibadah, itu bagian dari syukur. Dan Allah menjanjikan, siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya,” tuturnya.

Tak kalah penting, beliau menegaskan peran doa orang tua sebagai kunci keberkahan hidup anak. Mengutip dawuh para ulama, termasuk Imam As-Syafi’i, beliau menyampaikan bahwa doa orang tua merupakan salah satu sebab utama kemanfaatan ilmu.

“Doa orang tua kepada anak itu seperti doa nabi kepada umatnya. Maka jangan pernah berhenti mendoakan anak-anak kita,” pesannya.

Dalam penjelasan yang lebih mendalam, beliau mengungkapkan bahwa dalam banyak kisah Al-Qur’an, sosok yang mendoakan adalah seorang ayah. Hal ini menjadi pelajaran penting tentang peran ayah dalam pendidikan spiritual anak.

“Semua kisah dalam Al-Qur’an, yang mendoakan itu bapak. Maka hendaknya bapak mengirimkan Al-Fatihah kepada anak-anaknya satu per satu. Disebut namanya, _‘Ila hadrati jasadi wa ruhi wa qalbi… (nama anak)… Al-Fatihah’,_” jelasnya.

Beliau kemudian menegaskan pembagian peran dalam keluarga dengan bahasa sederhana namun penuh makna. “Ibu itu yang _‘masani’_ anak, yang merawat dan membesarkan. Sedangkan bapak yang mendoakan, mengirimkan Al-Fatihah untuk anak-anaknya,” imbuhnya.

Mauidzoh tersebut disimak dengan penuh khidmat oleh seluruh hadirin. Selain itu, kegiatan Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang silaturahim, tetapi juga ruang refleksi bagi para alumni untuk kembali menguatkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari. 

Kebersamaan antara alumni dan pengasuh menjadi gambaran nyata kuatnya jejaring spiritual yang tetap terjaga meskipun para alumni telah tersebar di berbagai daerah.

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh jajaran Pengurus Pusat HIKAM, di antaranya KH. Saiful Hidayat, KH. Nur Hadi (Mbah Bolong), serta beberapa pengurus lainnya. Kehadiran para pengurus pusat semakin menambah kekhidmatan dan kekuatan silaturahim antaralumni lintas wilayah.

Acara ini juga dihadiri oleh para wali murid MI Plus Hilmarrusyda, wali santri Madrasah Diniyah Rusyaida, serta masyarakat umum sekitar yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Dari unsur internal, para pengurus HIKAM Madiun Raya hadir secara lengkap, demikian pula para santri aktif Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum asal Madiun Raya yang turut memadati lokasi acara.

Melalui kegiatan ini, HIKAM Madiun Raya berharap dapat terus menjaga tradisi silaturahim, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang berakhlak, berilmu, dan berkepribadian “bener” sebagaimana dawuh para masyayikh.