Sosial & Budaya

Gubernur Khofifah Beri Penghargaan bagi Pendonor 75 Kali, Tekankan Donor Darah sebagai Pengabdian Kemanusiaan

10
×

Gubernur Khofifah Beri Penghargaan bagi Pendonor 75 Kali, Tekankan Donor Darah sebagai Pengabdian Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, 1 OKTOBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan piagam penghargaan dan lencana kepada 647 warga Jawa Timur yang telah mendonorkan darah secara sukarela sebanyak 75 kali. Penyerahan penghargaan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10).

Bersama Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur Imam Utomo, Gubernur Khofifah menyerahkan piagam penghargaan dan menyematkan lencana secara simbolis kepada 10 perwakilan penerima.

Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pendonor sekaligus mendorong penguatan ekosistem donor darah di Jawa Timur. Penghargaan ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga momentum untuk memperluas partisipasi masyarakat agar semakin banyak warga tergerak menjadi pendonor sukarela.

Khofifah menyoroti dua langkah strategis yang dinilai dapat memperkuat ketersediaan stok darah di Jawa Timur. Pertama, melakukan evaluasi sekaligus memperluas dan memeratakan basis pendonor sukarela, khususnya di wilayah kabupaten.

Ia menilai masih terdapat kesenjangan partisipasi pendonor antara sejumlah wilayah perkotaan dan kabupaten misalnya di Mojokerto.

Fenomena serupa, menurutnya, juga terlihat di wilayah Probolinggo serta Malang. Kabupaten Malang, misalnya, memiliki wilayah dan jumlah penduduk yang lebih besar dibandingkan Kota Malang, namun partisipasi pendonor sukarela masih perlu terus diperkuat.

"Mungkin nanti, Kadinkes Jatim  Prof. Erwin dipandu oleh Pak Imam Utomo supaya area-area yang masuk wilayah kabupaten ini juga keikutsertaannya bisa ditingkatkan," ujarnya.

Khofifah pun melihat wilayah kabupaten memiliki potensi besar untuk menjadi basis pendonor darah sukarela. Dengan cakupan wilayah yang luas dan jumlah masyarakat yang besar, peningkatan partisipasi di kabupaten diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan ketersediaan stok darah di Jawa Timur.

Khofifah menambahkan, pemerataan pendonor menjadi penting karena kebutuhan darah berlangsung setiap hari dan menyangkut berbagai kebutuhan pelayanan kesehatan. Karena itu, penguatan partisipasi masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan kegiatan donor pada momentum tertentu.

Langkah kedua yang didorong Khofifah adalah memperkuat sinergi antara Palang Merah Remaja (PMR) dan gerakan Pramuka di lingkungan sekolah. Menurutnya, kedua organisasi tersebut memiliki basis pelajar yang luas dan dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kepedulian sosial serta semangat kemanusiaan sejak dini.

Ia menilai penguatan sinergi PMR dan Pramuka dapat menjadi investasi sosial jangka panjang dalam membangun budaya donor darah di kalangan generasi muda.

"Kalau itu bisa memberseiringi antara Pramuka dengan PMR, ini skalanya bisa sangat masif. Karena pada dasarnya Pramuka di setiap sekolah dari mulai SD," kata Khofifah.

Khofifah berharap penguatan edukasi kemanusiaan sejak usia sekolah dapat menumbuhkan kesadaran bahwa donor darah merupakan bentuk kepedulian yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Sehingga, regenerasi pendonor dapat terus berjalan dan kebutuhan darah di masa mendatang dapat ditopang oleh basis pendonor sukarela yang semakin luas.

Pada kesempatan ini, Gubernur Khofifah juga menyampaikan penghormatan dan apresiasi secara langsung kepada 647 penerima penghargaan yang telah konsisten mendonorkan darah hingga mencapai 75 kali.

Ia menyebut konsistensi tersebut sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan yang sering kali berlangsung tanpa sorotan, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan transfusi darah.

"Kami menyampaikan terima kasih yang pertama. Yang kedua juga terima kasih yang ketiga juga terima kasih. Jadi, kalau orang cerita bhinneka tunggal Ika maka bhinneka Tunggal Ika lahir batin itu sesungguhnya adalah para pendonor darah sukarela," puji Khofifah.

Ia melanjutkan, ketulusan para pendonor dalam menyumbangkan darah merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama, karena darah yang diberikan tidak mengenal perbedaan latar belakang penerimanya.

"Kalau ada keikhlasan lahir batin, maka para pendonor darah inilah yang sesungguhnya memiliki keikhlasan lahir batin yang luar biasa," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Khofifah yang secara konsisten memberikan penghargaan kepada para pendonor darah sukarela, termasuk dengan menyerahkannya secara langsung di Gedung Negara Grahadi.

"Saya sampaiakan ribuan terima kasih kepada Ibu Gubernur yang telah memberikan waktu untuk menyerahkan penghargaan secara pribadi di Grahadi setiap tahunnya," ucapnya.

Imam mengatakan, Surabaya selama ini menjadi salah satu daerah yang memiliki kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan darah di Jawa Timur. Setiap hari, PMI di Surabaya mampu melakukan pengambilan darah dari sekitar 400 pendonor.

Untuk memperkuat kapasitas layanan tersebut, PMI Jawa Timur berencana mendirikan Unit Donor Darah (UDD) kedua di Kota Surabaya. Rencana tersebut akan dikolaborasikan dengan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan.

Menurut Imam, keberadaan UDD kedua diharapkan dapat memperluas akses masyarakat untuk melakukan donor darah sekaligus memperlancar proses pengambilan dan pengelolaan darah di Surabaya.

"Mudah-mudahan Surabaya dua ini nanti bisa mendapat tempat yang bagus dan tidak mengalami kesulitan. Sehingga pengambilan darah di Surabaya bisa berjalan lebih lancar," harapnya.

Salah satu penerima penghargaan, Joko Rustriyanto, warga Kota Surabaya, mengaku bersyukur dapat menerima apresiasi atas konsistensinya sebagai pendonor darah sukarela. Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Khofifah atas kesempatan menerima penghargaan secara langsung di Gedung Negara Grahadi.

Joko mengatakan, selain dorongan untuk membantu sesama, donor darah juga menjadi bagian dari upayanya menjaga kesehatan. Sebelum melakukan donor, pendonor menjalani pemeriksaan kondisi kesehatan untuk memastikan kelayakan sebelum darah diambil.

"Karena ketika saat mau donor, kita pasti dilakukan cek menyeluruh terhadap kondisi tubuh," ucapnya.

Joko mengaku mulai rutin mendonorkan darah sejak berusia 21 tahun. Setelah mencapai 75 kali donor, ia berharap dapat terus melanjutkan kebiasaan tersebut hingga 100 kali.

"Alhamdulillah saya memulai dari usia 21 tahun dan telah mencapai 75 kali sehingga bisa bertemu Ibu Gubernur. Semoga bisa terus sampai 100 kali dan bertemu dengan Presiden," pungkasnya.